Langsung ke konten utama

Sebuah Awal

Tabik.

Saya Erwanda Ersa, biasa dipanggil Wanda, dan saya perempuan.

Mengapa tiga poin itu yang saya paparkan di awal tulisan ini?

Karena saya tidak suka dipanggil Erwan, itu nama guru TIK saya sewaktu SMP dan beliau laki-laki. Juga kebanyakan orang yang membaca nama lengkap saya akan menganggap saya laki-laki, contohnya adalah jenis kelamin di daftar absensi sewaktu saya kelas 1 – 3 SMP adalah L, dan bukan P. Saya juga kurang mengerti mengapa kesalahan itu tetap dipertahankan sampai tiga tahun berturut-turut.

Saat ini saya sedang mengenyam pendidikan semester pertama di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Akreditasi A pada Psikologi, dan juga A pada universitasnya. Saya cukup bangga dengan hal itu, meski selalu ada yang lebih baik dari itu. Kehidupan memang tak akan pernah menemu titik puas, lebih tepatnya adalah diri sendiri.

Saya percaya bahwa awal perkuliahan adalah masa-masa yang bergejolak dan diri akan terombang-ambing entah ke mana arus yang kita tempati. Dan di awal ini aku isi dengan (masih) ketidakihlasan menerima kenyataan perihal saya yang tak direstui untuk merantau di dalam negeri. Anehnya, kalau saya dapat beasiswa ke luar negeri, semua anggota keluarga amat sangat mendukung. "Jauh, ya jauh sekalian; jangan tanggung-tanggung," begitu ucap kakak pertama saya.

Bicara perihal kakak, saya punya tiga kakak perempuan, semuanya menjadi inspirasi saya dalam melakukan banyak hal. Mereka memiliki peran pada masing-masing tempatnya. Dan tentunya memudahkan saya mengenakan pakaian model lain ketika saya sudah bosan dengan pakaian sendiri yang itu lagi itu lagi.

Ibu saya guru SD, dan November ini seharusnya beliau sudah pensiun. Bapak saya sudah cukup lama pensiun dari pekerjaannya dan lebih sering mengerjakan apa saja yang ada di depan rumah; merawat tanaman, membersihkan halaman, mengantarkan kami semua (ibu, kakak, dan saya) ke suatu tempat.

Saya memanggil ibu dengan sebutan Mamah, kakak dengan sebutan Teteh, tapi bapak tetaplah Bapak. Kedua orangtua saya berasal dari Kabupaten Majalengka, tetapi saya besar di Kota Depok. Empat bulan setelah Kota Depok lahir, saya pun dilahirkan. Sebegitu romantisnya saya dengan kota ini memang.

Paragraf ini saya buat untuk menceritakan perihal seorang teman di kelas. Nama tidak lengkapnya Agelsa, rumahnya tidak jauh dari kampus 2 UIN Jakarta, hanya tujuh menit perjalanan bersama abang ojek daring.

Cerita yang ia bagikan sebenarnya amat klasik untuk mahasiswa baru yang masih antusias dengan perubahan kehidupannya dari sekolah menengah ke dunia perkampusan. Perihal bagaimana akhirnya dia dapat masuk ke universitas ini.

Menurut saya, Agel termasuk siswa yang rajin belajar di SMA-nya. Karena dia masuk kuota siswa yang dapat mengajukan pilihan di jalur undangan, SNMPTN. Kesempatan itu tidak akan didapat pada siswa yang tidur sepanjang dan setiap hari di kelas seperti saya. Tetapi, seperti biasa banyak anak-anak yang rajin belajar menganggap dirinya adalah pemalas. Mereka semua bohong dalam hal itu, tapi jika aku yang bicara berarti memang itu sudah realitas yang benar-benar terjadi.

Agel mengira akan dapat kesempatan di jalur undangan, tetapi hasil berkata lain dengan yang diharapkannya, dia tidak lolos dan hanya punya waktu kurang dari tiga minggu untuk belajar SBMPTN setelah pengumuman jalur undangan tersebut. Dengan waktu yang singkat itu, ia mempelajari bidang sosial humaniora yang amat berbeda dengan bidang yang ia pelajari tiga tahun di SMA.

Pilihan pertama saat SBMPTN adalah Psikologi UI, kedua Psikologi UIN Jakarta, dan yang ketiga adalah Psikologi UNJ. Dan dengan kadar belajar yang menurutnya amat singkat, ia sangat bersyukur dapat masuk di universitas ini. Selesai. Yaampun ternyata kalau dituliskan, ceritanya jadi amat singkat.

Tadinya saya ingin menceritakan perihal kesedihan saya dengan impian masuk universitas negeri yang berada lebih dari 500 km dari Kota Depok. Tapi saya urungkan, karena hal itu akan membuat tulisan ini berakhir menyedihkan.

Sekian, terima kasih.

Komentar